Senin, 26 Mei 2014

Ushul tsalasah 05

BELAJAR AQIDAH SHAHIHAH
DARI KITAB AL USHUL ATS TSALATSAH ��
��Pelajaran Kelima��
 قال المؤلِّف رحمه الله تعالى:
"أَنَّهُ يَجِبُ عَلَيْنَا تَعَلُّمُ أَرْبَعِ مَسَائِلَ"
Berkata Penulis_rahimahullah Ta'ala:
"Sesungguhnya wajib atas kita untuk mempelajari empat perkara
:..."
➖➖➖➖➖➖➖
Penjelasan:
Empat perkara yang akan disebutkan oleh Penulis adalah perkara yang wajib setiap pribadi muslim mempelajarinya. Barangsiapa yang enggan mempelajarinya maka pada hari kiamat, Allah akan mengumpulkannya bersama golongan orang-orang yang jahil (bodoh) yang enggan mempelajari perkara-perkara yang pokok dalam agamanya.
Ketahuilah, bahwa di Akherat nanti, Allah Ta'ala menjadikan mayoritas penduduk Neraka dari golongan orang-orang yang jahil, golongan orang-orang yang tidak memiliki semangat mempelajari ilmu yang dibawa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, padahal Allah Ta'ala telah memberikan kepada mereka kemudahan mendapatkannya dan telah membukakan untuk mereka segala bentuk jalan-jalan untuk memperoleh ilmu dengan tanpa adanya kesulitan. Namun meraka enggan, berpaling, sombong dan mendustakan apa yang dibawa Nabi  Shallallahu 'alaihi wasallam, wallahul musta'an.
��Allah Ta'ala berfirman tentang keadaan mereka kelak di Akherat:
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ (10) فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ (11).
"Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. [QS. Al Mulk: 10-11]
��Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman:
وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
"Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). [QS. Al An'am: 27]
��Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ.
"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya. [QS. Al An'Am: 93]
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126).
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?". Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan." [QS. Thaahaa: 124-126]
Lihatlah penyesalan mereka, tatkala mereka telah mendapatkan akibat dari perbuatan mereka sendiri. Akibat dari sebuah kesombongan; enggan dan berpaling dari Al Qur'an dan Sunnah.
Mereka menyesal, kenapa dahulu tidak mau mendengarkan nasehat dan ilmu yang diberikan oleh para da'i-da'i Ahlussunnah yang mengajak kepada kebenaran?!
Kenapa dahulu enggan untuk merenungi peringatan-peringatan yang disampaikan?! Sehingga kebodohan inilah yang menyeret mereka kedalam siksaan Neraka yang pedih.
��Namun apalah arti sebuah penyesalan, tatkala sudah tidak diterima lagi sebuah penyesalan. Allah Ta'ala berfirman:
{وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ}
"Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan." (Allah berfirman) "Dan bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. [QS. Faathir: 37]
 Wahai kaum muslimin!
Wajib bagi setiap pribadi muslim untuk bersungguh-sungguh mempelajari perkara-perkara yang penting dan pokok yang harus dia ketahui, baik permasalahan aqidah ataupun yang lainnya dari perkara-perkara yang mana seorang muslim tidak boleh bodoh padanya. Karena sesungguhnya ilmu Al Qur'an dan Sunnah yang dia pelajari, akan menerangi kehidupannya dan membimbingnya kepada jalan-jalan yang diridhai Allah Ta'ala.
{وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.. [QS. Asy Syuura: 52]
 Semoga Allah 'Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan kepada kita semua taufiq dan hidayah-Nya dan menambahkan kepada kita semua ilmu yang bermanfaat.
Aamin Ya Mujibas Saailin…

Wallahul muwaffiq ilash Shawab.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
[✏ ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 21 Rabi'uts Tsani 1435/ 21 Pebruari 2014_di Daarul Hadits_Al Fiyusy_Harasahallah ��]
➖����➖
 FORUM KIS 

Ushul tsalasah 06

BELAJAR AQIDAH SHAHIHAH
DARI KITAB AL USHUL ATS TSALATSAH 
��Pelajaran Keenam��
 قال المؤلِّف رحمه الله تعالى:
(الأُولَى) الْعِلْمُ
 Berkata Penulis_rahimahullah Ta'ala:
oiiw
"Yang pertama: Al Ilmu (berilmu):
➖➖➖➖➖➖
Penjelasan:
✒ Kewajiban yang pertama bagi seorang muslim adalah dia dalam beragama ini harus memiliki ilmu yang akan meluruskan aqidahnya dan membenarkan segala bentuk ibadahnya. Tidak boleh bagi seorang muslim, dia beraqidah dan beribadah diatas kejahilan. Tidak boleh kita mengambil aqidah kita dan menunaikan ibadah kepada Allah Ta'ala dibangun diatas perasaan; "Oh menurut saya ini baik, ini cocok dengan perasaan saya…"
 Tidak dan sekali tidak! wajib bagi seorang muslim membangun aqidahnya dan ibadahnya diatas tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Bagaimana kita mengetahui bahwa ini adalah aqidah dan ibadah yang benar yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
��Jawabannya adalah dengan menuntut ilmu aqidah dan ibadah yang shahih.
Allah Ta'ala telah memerintahkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk menuntut ilmu dan meminta tambahan ilmu, sebagaimana dalam Firman-Nya:
{وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا}
"Katakanlah (wahai Muhammad): "Ya Rabbku, Tambahkanlah ilmu bagiku" [Thahaa: 114]
Jika demikian, maka kita sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam lebih berhak dan butuh untuk meminta demikian.
Sungguh Allah Ta'ala telah menjelaskan dalam sekian banyak ayat-ayat-Nya tentang keutamaan ilmu dan demikian pula Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menjelaskannya dalam hadits-hadits yang shahih, diantaranya adalah;
Allah Ta'ala berfirman:
{شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ}
"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [QS. Ali Imran: 18]
{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ العُلَمَاءُ} [فاطر: 28]
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama." [QS. Faathir: 28]
{يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ}
"niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." [QS. Al Mujaadilah: 11]
{قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ}
"Katakanlah: "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." [QS. Az Zumar: 9]
{هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ}
"Katakanlah: "Apakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang." [QS. Ar Ra'd: 16]
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ».
Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al Qur'an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. [HR. Muslim, dari shahabat Abu Hurairah].
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»
"Siapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya, maka Allah akan pahamkan orang tersebut dalam urusan agamanya." [HR. Al Bukhari – Muslim, dari shahabat Mu'awiyah bin Abi Sufyan]
Ilmu yang paling agung dan wajib atas setiap muslim mempelajarinya dan tidak boleh baginya bodoh padanya adalah ilmu mengenal Allah dan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam serta mengenal Agama Islam yang dia peluk, beserta dengan dalil-dalilnya yang bersumber dari Al Qur'an dan Sunnah.
 Kita akan lanjutkan kembali penjelasan paragraf terakhir ini pada pelajaran berikutnya, insya Allah.
Semoga Allah 'Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan kepada kita semua taufiq dan hidayah-Nya dan menambahkan kepada kita semua ilmu yang bermanfaat.
Aamin Ya Mujibas Saailin…

Wallahul muwaffiq ilash Shawab.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
[✏ ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 19 Jumadal Ula 1435/ 20 Maret 2014_di Daarul Hadits_Al Fiyusy_Harasahallah ��]
➖����➖
 FORUM KIS

Ushul tsalasah 07

BELAJAR AQIDAH SHAHIHAH
DARI KITAB AL USHUL ATS TSALATSAH
��Pelajaran Ketujuh��
 قال المؤلِّف رحمه الله تعالى:
"وَهُوَ مَعْرِفَةُ اللهِ...
 Berkata Penulis_rahimahullah Ta'ala:
w
"yaitu; Ilmu mengenal Allah"
----------------
 Penjelasan:
Ilmu apakah yang wajib setiap muslim untuk mengetahui dan mempelajarinya?
 Pertama: Ilmu mengenal Allah
Yaitu; hendaknya seorang hamba benar-benar mengenal Sang penciptanya, sehingga dia benar-benar menjadikan segala bentuk ibadahnya hanya untuk Allah Ta'ala. Hatinya selalu rindu dan selalu terawasi oleh Rabbnya,sehingga tidaklah dia berdoa, bertawakal, bersujud, takut dan berharap kecuali hanya kepada Allah.
 Ilmu mengenal Allah adalah ilmu yang paling agung, karena Allah Ta'ala Maha Agung. Barangsiapa yang benar-benar mengenal Allah maka sungguh dia akan menjadi orang yang paling bertakwa dan paling takut kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman:
{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama" [QS. Faathir: 28]
Kenapa hanya para ulama? Karena mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah 'Azza wa Jalla.
Ilmu menganal Allah Ta'ala terbagi menjadi dua bagian:
�� Pertama: Mengenal Dzat Allah Ta'ala, hal ini ditempuh dengan beberapa hal:
��- Mengenal Nama-nama Allah yang Agung dan Sifat-sifatNya yang Tinggi.
Allah Ta'ala berfirman:
{وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا}
"Hanya milik Allah Al Asma'ul Husna (nama-nama yang Agung), maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Al Asma'ul Husna tersebut." [QS. Al A'raf: 180]
{وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ}
"dan Hanyalah Allah yang mempunyai sifat yang Maha Tinggi, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. " [QS. An Nahl: 60]
��- Melihat dan merenungi Ayat-ayat Allah Al Kauniyah.
Allah Ta'ala berfirman:
{إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ}
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." [QS. Ali 'Imran: 190]
{أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20) فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ (22)}
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka." [QS. Al Ghasyiah: 17-22]
��- Melihat dan merenungi Ayat-ayat Allah Asy Syar'iyyah.
Allah Ta'ala berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." [QS. An Nisaa: 82]
Allah 'Azza wa Jalla juga berfirman:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
"Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar." [QS. Al Israa: 9]
Tujuan seorang hamba mengenal Allah adalah agar tumbuh pada diri dan hatinya kecintaan dan pengagungan terhadapNya, takut dan berharap hanya kepadaNya, serta tidaklah dia beribadah melainkan hanya kepada Allah semata.
Oleh karena itu, apabila seorang hamba mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, maka akan semakin kokoh pada diri dan hatinya kecintaan dan pengagungan terhadap Allah. Hamba yang paling takut dan bertakwa kepada Allah adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, karena beliau adalah hamba yang paling mengenal Allah Ta'ala dengan sebenar-benarnya, beliau bersabda:
«إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللَّهِ أَنَا»
"Sesungguhnya yang paling takwa dan paling mengerti tentang Allah diantara kalian adalah aku". [HR. Al Bukhari – Muslim, dari shahabat 'Aisyah]
Dalam riwayat Muslim, beliau bersabda:
«وَاللهِ، إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ، وَأَعْلَمَكُمْ بِمَا أَتَّقِي»
"Sesunguhnya saya berharap, bahwa sayalah yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan paling tahu bagaimana caranya bertakwa."
Tatkala ada seseorang bertanya kepada Asy Sya'bi: "Siapakah orang yang (patut) dikatakan berilmu?" beliau menjawab: "Orang yang dikatakan berilmu adalah orang yang takut kepada Allah.
Berkata Ibnu Mas'ud_radhiyallahu 'anhu: "Cukuplah seseorang itu dikatakan berilmu, tatkala memiliki rasa takut kepada Allah. Dan cukuplah seseorang itu dikatakan jahil (orang yang bodoh) tatkala dia berpaling dari Allah."
Berkata ulama Salaf: "Tidaklah orang yang bermaksiat kepada Allah kecuali orang yang jahil." Yaitu, tidak mengetahui keagungan Allah dan kedudukan Allah Ta'ala, meskipun terkadang dia pandai dalam ilmu syariat.
Oleh karena itu, wahai saudaraku!
Jika engkau melihat ada seorang yang berilmu, namun pada kehidupannya bergelimang dengan kemaksiatan, maka sesungguhnya dia masih jahil, belum bisa dikatakan orang yang berilmu. Karena hakikat ilmu yang bermanfaat dan membawa keberkahan, akan melahirkan pada diri pemiliknya kecintaan dan pengagungan terhadap Allah, serta akan melahirkan rasa takut kepada Allah ketika dia berbuat maksiat.
�� Kedua: Mengenal hukum-hukum dan apa saja yang disyariatkan Allah dari perkara halal dan Haram.
Ini merupakan ilmu yang agung, seorang hamba mengetahui mana yang dihalalkan oleh Allah dan mana yang diharamkan. Dan mengetahui mana yang wajib diamalkan, mana yang mustahab dan mana yang makruh. Dengan ilmu ini, maka hamba bisa menjalankan segala bentuk tuntunan syariat yang Allah tetapkan dan menjahui segala bentuk larangan-laranganya.
�� Kita simpulkan, bahwa manusia dalam bab mengenal Allah terbagi menjadi empat golongan:
. Golongan orang yang benar-benar mengenal Allah dan mengetahui hukum-hukum syariat, maka ini adalah golongan manusia yang paling utama.
. Golongan yang benar-benar mengenal Allah, namun dia jahil terhadap hukum-hukum syariat.
. Golongan yang mengetahui hukum-hukum syariat, namun tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.
. Golongan yang tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya dan juga tidak mengetahui hukum-hukum syariatNya.
�� Cobalah lihat, termasuk golongan manakah posisi kita?!
Semoga Allah 'Azza wa Jalla menjadikan kita semua menjadi hamba-hambaNya yang mengenalNya dengan sebenar-benarnya dan mengetahui hukum-hukum syariat-syariatNya.
Wallahul muwaffiq ilash Shawab.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
[✏ ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 17 Jumadats Tsaniyah 1435/ 17 April 2014_di Daarul Hadits_Al Fiyusy_Harasahallah ��]
〰����〰
 FORUM KIS

Ushul tsalasah 08

BELAJAR AQIDAH SHAHIHAH
DARI KITAB AL USHUL ATS TSALATSAH
��Pelajaran Kedelapan��
 قال المؤلِّف رحمه الله تعالى:
"وَمَعْرِفَةُ نَبِيِّهِ..."
Berkata Penulis_rahimahullah Ta'ala:
"mengenal Nabi-Nya"

----------------------
Penjelasan:
Ilmu apakah yang wajib setiap muslim untuk mengetahui dan mempelajarinya?
 Kedua: Ilmu mengenal Nabi Muhamad shallallahu 'alaihi wasallam.
Ilmu ini terkandung padanya beberapa perkara:
. Meyakini bahwa Nabi Muhamad shallallahu 'alaihi wasallam adalah seorang hamba dan juga seorang rasul yang diutus oleh Allah kepada jin dan manusia. Dalam doa tasyahhud:
« وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ »
"Aku bersaksi bahwa (nabi) Muhamad adalah seorang hamba dan rasul (utusan Allah)". [HR. Al Bukhari – Muslim, dari shahabat Abdullah bin Mas'ud]
. Meyakini bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah penutup para nabi, tidak ada nabi maupun rasul yang diutus setelahnya.
{مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ}
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi." [QS. Al Ahzab: 40]
. Meyakini bahwa Nabi Muhamad shallallahu 'alaihi wasallam diutus kepada seluruh manusia, baik diutus ke bangsa arab maupun bangsa 'ajam (selain arab).
{وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ}
"Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." [QS. Saba': 28]
. Meyakini bahwa Nabi Muhamad shallallahu 'alaihi wasallam adalah manusia yang terbaik dan paling sempurna, baik dari sisi ilmunya, amalannya, rasa takutnya kepada Allah dan yang lainnya. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللَّهِ أَنَا»
"Sesungguhnya yang paling takwa dan paling mengerti tentang Allah diantara kalian adalah aku". [HR. Al Bukhari – Muslim, dari shahabat 'Aisyah]
Dalam riwayat Muslim, beliau bersabda:
«وَاللهِ، إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ، وَأَعْلَمَكُمْ بِمَا أَتَّقِي»
"Sesunguhnya saya berharap, bahwa sayalah yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan paling tahu bagaimana caranya bertakwa."
 Tujuan dari ilmu mengenal Nabi kita shallallahu 'alaihi wasallam adalah agar lahir pada diri kita kecintaan kepadanya, peneladanan dari akhlak beliau, mengikuti segala petunjuk yang datang darinya, tunduk dan patuh kepadanya secara lahir dan batin serta kita tidak butuh kepada segala bentuk kebid'ahan yang  ada.
�� Penulis akan menerangkan lebih lanjut dan lebih luas tentang ilmu mengenal Nabi Muhamad shallallahu 'alaihi wasallam pada pasal ketiga dari kitab kita.
Wallahul muwaffiq ilash Shawab.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
[✏ ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 24 Jumadats Tsaniyah 1435/ 24 April 2014_di Daarul Hadits_Al Fiyusy_Harasahallah ��]
➖����➖
 WA. FORUM KIS

Jurumiyah 13

BELAJAR ILMU NAHWU
DARI KITAB AL AJURUMIYAH
��Pelajaran Ketigabelas��
��ALAMAT NASHAB SUATU KALIMAT 
 قال المؤلف - رحمه الله:
"ولِلنَّصبِ خَمْسُ عَلاَمَاتٍ الْفَتْحَةُ، وَالأَلِفُ، وَالكَسْرَةُ، وَاليَاءُ، وَحَذْفُ النُّونِ."

Berkata penulis_rahimahullah:
"Nashab, ia memiliki lima alamat: Fathah, Huruf Alif, Kasrah, Huruf Ya dan Hadzfun Nun (membuang Huruf Nun)"
PENJELASAN:
Ini adalah jenis kedua dari macam-macam I'rab.
Nashab, ia memiliki lima alamat. Dikedapankan Fathah disini karena dia adalah alamat asli dari alamat Nashab, sedangkan yang lainnya adalah cabangnya.
Kalian bisa menentukan bahwa suatu kalimat itu manshub (dinashab) apabila kalian mendapatkan salah satu dari lima alamat ini pada akhir kalimat tersebut.
~~**~~
 قال المؤلف - رحمه الله:
"فَأَمَّا الفَتْحَةُ فَتَكُونُ عَلاَمَة لِلنَّصْبِ في ثَلاُثَةِ مَوَاضِعَ: فِي الاِسْمِ الْمُفْرَدِ، وَجَمْعِ التَّكْسِيرِ وَالْفِعْلِ الْمُضَارِعِ إِذَا دَخَلَ عِلَيْهِ نَاصِبٌ، وَلَمْ يَتَّصِلُ بِآخِرِهِ شَيْءٌ "
 Berkata penulis_rahimahullah:
"Adapun Fathah menjadi alamat bagi Nashab ada pada tiga tempat; pada Isim Mufrad, Jamak Taksir dan Fi'il Mudhari' yang masuk padanya 'Aamil yang menashabkan dan (Fi'il Mudhari' tersebut) tidak bersambung di akhirnya sesuatupun."
PENJELASAN:
Alamat pertama dari alamat-alamat Nashab adalah Fathah.
Fathah menjadi tanda bahwa kalimat itu Manshub (dinashab) ada pada tiga tempat;
. Pada Isim Mufrad (kata benda tunggal).
Definisi Isim Mufrad telah lewat penyebutannya pada bab alamat-alamat Rafa'.
��Contoh Isim Mufrad yang Manshub:
- رَأَيْتُ خَالِدًا.
"Saya melihat Khalid."
- ضَرَبَ حَامِدٌ حَجَرًا.
"Hamid memukul batu."
- سَمِعْتُ مِذْيَاعًا.
"Saya mendengar radio."
- أَخَذَتْ فَاطِمَةُ مِمْسَحَةً.
"Fathimah mengambil penghapus."
�� Perhatikan empat contoh diatas! kalian dapatkan pada kalimat (خَالِدًا), (حَجَرًا), (مِذْيَاعًا), dan (مِمْسَحَةً) semuanya dinashab dengan Fathah, karena semuanya Isim Mufrad. Tanda Fathah pada empat kalimat diatas semuanya zhahirah (tampak). Adapun apabila Isim Mufrad tersebut berbentuk Isim Maqshur, yaitu Isim yang huruf akhirnya Alif Maqshurah (Alif bengkok), maka tanda Fathah pada Isim tersebut Muqaddarah (tidak tampak), contohnya:
- رَأَيْتُ الْفَتَى.
"Aku melihat anak muda itu."
- لَقِيَتْ عَائِشَةُ لَيْلَى.
"'Aisyah berjumpa (dengan) Laila."
�� Perhatikan dua contoh diatas! Kalian dapatkan pada kalimat (الْفَتَى) dan (لَيْلَى) semuanya dinashab dengan Fathah, hanya saja dia tidak tampak pada huruf akhirnya, itu disebabkan karena dia Isim Mufrad yang huruf akhirnya Alif Maqshurah (Alif bengkok).
. Pada Jamak Taksir.
Definisi Jamak Taksir telah lewat penyebutannya pula pada bab alamat-alamat Rafa'.
��Contoh Jamak Taksir yang Manshub:
- رَأَيْتُ الطُّلَّابَ.
"Aku melihat para pelajar."
- ضَرَبَ الْأَوْلَادُ الْكِلَابَ.
"Anak-anak itu memukul anjing-anjing."
- أَخَذَتْ خَدِيْجَةُ الْمَلَابِسَ.
"Khadijah mengambil pakaian-pakaian."
- رَمَيْتُ أَحْجَارًا.
"Aku melempar batu-batu."
�� Perhatikan empat contoh diatas! kalian dapatkan pada kalimat (الطُّلَّابَ), (الْكِلَابَ), (الْمَلَابِسَ), dan (أَحْجَارًا) semuanya dinashab dengan Fathah, karena semuanya Jamak Taksir. Tanda Fathah pada empat kalimat diatas semuanya zhahirah (tampak). Adapun apabila Jamak Taksir tersebut berbentuk Isim Maqshur, yaitu Isim yang huruf akhirnya Alif Maqshurah (Alif bengkok), maka tanda Fathah pada Isim tersebut Muqaddarah (tidak tampak) seperti pada Isim Mufrad, contohnya:
- رَأَيْتُ سُكَارَى.
"Aku melihat para pemabuk."
- لَقِيَتْ زَيْنَبُ الْأَيَامَى.
"Zainab berjumpa (dengan) para janda."
�� Perhatikan dua contoh diatas! Kalian dapatkan pada kalimat (سُكَارَى) dan (الْأَيَامَى) semuanya dinashab dengan Fathah, hanya saja dia tidak tampak pada huruf akhirnya, itu disebabkan karena dia Jamak Taksir yang huruf akhirnya Alif Maqshurah (Alif bengkok).
. Fi'il Mudhari' yang masuk padanya 'Aamil yang menashabkan dan tidak bersambung di akhirnya sesuatupun.
Maksud dari "tidak bersambung di akhirnya sesuatupun" adalah dia bukan termasuk dalam Al Af'al Al Khamsah – telah lewat definisinya – dan tidak pula bersambung dengan Nun taukid dan juga Nun Niswah."
��Contoh Fi'il Mudhari' yang Manshub:
- مُحَمَّدُ لَنْ يَذْهَبَ.
"Muhamad tidak akan pergi."
- أُرِيْدُ أَنْ أَجْلِسَ.
"Saya ingin duduk."
- الْكَسْلَانُ لَنْ يَنْجَحَ.
"Orang yang malas tidak akan berhasil."
�� Perhatikan tiga contoh diatas! kalian dapatkan pada kalimat (يَذْهَبَ), (أَجْلِسَ), dan (يَنْجَحَ) semuanya dinashab dengan Fathah, karena semuanya Fi'il Mudhari' yang masuk padanya 'Aamil yang menashabkan dan tidak bersambung di akhirnya sesuatupun. Tanda Fathah pada tiga kalimat diatas semuanya zhahirah (tampak). Adapun apabila Fi'il Mudhari' tersebut berbentuk Fi'il Maqshur, yaitu Fi'il yang huruf akhirnya Alif bengkok, maka tanda Fathah pada Fi'il Mudhari' tersebut Muqaddarah (tidak tampak), contohnya:
- أُرِيْدُ أَنْ تَسْعَى.
"Saya ingin kamu berusaha."
- أَبُوْكَ لَنْ يَرْضَى.
"Ayahmu tidak akan ridha."
�� Perhatikan dua contoh diatas! Kalian dapatkan pada kalimat (تَسْعَى) dan (يَرْضَى) semuanya dinashab dengan Fathah, hanya saja dia tidak tampak pada huruf akhirnya, itu disebabkan karena dia Fi'il Mudhari' yang huruf akhirnya Alif Maqshurah (Alif bengkok).
 PERHATIAN:
Semua harakat, baik Dhammah, Fathah atau Kasrah pada Isim atau Fi'il yang huruf akhirnya Alif Maqshurah, maka harakatnya Muqaddarah (tidak tampak).
 ISTILAH DAN KOSAKATA BARU:
��a. Hadzfun Nun: membuang Huruf Nun.
��b. Manshub: dinashab.
��c. Fi'il Mudhari': kata kerja kini atau nanti.
��d. Alif Maqshurah: Alif bengkok.
��e. Naashib: 'Aamil yang menashabkan. Akan datang pembahasannya pada babnya.
��f. Nun Taukid: Nun Penegasan, yaitu huruf Nun Tasydid atau sukun yang melekat dibelakang Fi'il Mudhari' dan berfungsi untuk menegaskan atau memperkuat maknanya. Insya Allah akan dijelaskan di lain kesempatan.
��g. Nun Niswah: Dhamir (kata ganti) perempuan jamak. Akan datang pembahasannya pada babnya.
 Istilah-istilah diatas terkadang akan terulang kembali, sehingga kita harus bisa menghafal makna istilah-istilah tersebut.
Jadi, apa yang dituntut dari kita pada pelajaran hari ini?
��Kita dituntut oleh penulis kitab ini untuk menghafal dan mengenal alamat-alamat I'rab, yaitu apakah alamat I'rab suatu kalimat ketika dinashab?!
Adapun kita mengetahui kapan kalimat itu Manshub (dinashab) maka hal ini akan dibahas pada babnya tersendiri.
Yang terpenting bagi kita sementara ini adalah mengenal tanda-tanda I'rabnya terlebih dahulu dan jangan kalian terpusingkan dengan sesuatu yang belum datang penjelasannya!
Demikianlah pelajaran kita hari ini. Kita akan lanjutkan alamat kedua dari alamat Nashab pada pertemuan yang akan datang insya Allah.
Wallahu a'lam bish shawab.
[✏ ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawy, 28 Jumadats Tsaniyah 1435/ 28 April 2014_di Daarul Hadits_Al Fiyusy_Harasahallah ��].
~~~•~•~•~•~•~•~•~•~•~
 WA. FORUM KIS 

Hadist 02

Wahai saudaraku, hafalkanlah hadits yang agung ini! ��

�� HADITS KEDUA 

 WASPADAILAH KESYIRIKAN! ��

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ» رواه مسلم

 "Dari Abu Hurairah_radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan dari segala persekutuan, barangsiapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukanKu dengan selainKu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya'." [HR. Muslim]

➖����➖

 FORUM KIS 

Hadist 05

Wahai saudaraku, hafalkanlah hadits yang agung ini

HADITS KELIMA

 PINTU TAUBAT MASIH TERBUKA,
JANGANLAH KAU PUTUS ASA

 عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا» رواه مسلم

 Dari Abu Musa_radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: " Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla akan senantiasa membuka lebar-lebar tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari dan Allah senantiasa akan membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada malam hari, dan yang demikian terus berlaku hingga matahari terbit dari barat." [HR. Muslim]

➖����➖
 FORUM KIS 